Jumat, 05 November 2010

OLAH RAGA

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Fasli Djalal yang mewakili Mendiknas Muhammad Nuh secara resmi membuka perhelatan ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) IV/2010 di Jakarta, Kamis.

Event olahraga Olimpiade Tingkat Sekolah Dasar ASEAN yang mempertandingkan lima cabang unggulan itu akan berlangsung hingga 9 November mendatang.

"Kami harapkan seluruh anggota kontingen dapat bertanding dengan sungguh-sungguh, menjunjung tinggi sportivitas dan mengutamakan rasa persahabatan dan kesatuan diantara negara anggota ASEAN," ujar Fasli Djalal.

APSSO IV/2010 bakal diikuti sekitar 300 atlet dan ofisial dari tujuh negara peserta yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam dan Filipina.

Sedangkan cabang yang dipertandingkan adalah atletik, bulutangkis, sepakbola, tenis meja dan catur yang menyediakan 22 medali emas.

Fasli Djalal menambahkan perhelatan APSSO merupakan ajang untuk membangun sebuah fondasi regional yang pada suatu saat bisa tampil menjadi kekuatan.

"Kita tengah membangun sebuah kekuatan dan persahabatan regional melalui berbagai bidang termasuk olahraga bagaikan fondasi batu-batu yang disusun sebagai sebuah kekuatan regional yang bernama Asia Tenggara," ujarnya.

Penduduk negara ASEAN, lanjut Fasli Djalal, saat ini berjumlah 600 juta jiwa. Jika persekutuan negara ASEAN sudah berubah menjadi "ASEAN Plus" dengan bergabungnya China, Korea dan Jepang maka kawasan ini sudah memiliki dua sampai tiga miliar penduduk, apalagi jika India juga bergabung.

"Ini berarti sudah separuh penduduk dunia berada di kawasan ini. Para atlet yang tampil di APSSO ini kita harapkan menjadi para pemimpin pada era 15, 20 atau 35 tahun ke depan. Apa yang mereka jalani hari ini akan membekas selamanya," ujar Fasli Djalal.

Upacara pembukaan APSSO diisi dengan sejumlah kesenian khas daerah diantaranya Rampak Gendang SMA 8 Jakarta, Tari Lalu Lintas SDN 11 Kebayoran Lama Jakarta Selatan serta koor Mars dan Hymne APSSO yang dibawakan siswa-siswa SD Ciracas Jakarta Timur yang memukau sekitar 500 hadirin di Puri Agung Hotel Sahid Jaya Jakarta.

Sabtu, 17 Juli 2010

Jumat, 04 Juni 2010

Selasa, 04 Mei 2010

Jumat, 23 April 2010

MORAL BANGSA

p!
YOGYAKARTA--MI: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu membangun akhlak dan moral bangsa.

Pernyataan Gubernur tersebut dibacakan Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi DIY Tavip Agus Rayanto pada Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Yogyakarta, Kamis (15/4).

Menurut Sultan, pendidikan di Indonesia masih belum mampu membangun akhlak dan moral bangsa, tetapi lebih mengarah pada kepentingan sesaat yaitu mewujudkan bangunan gedung atau investasi lain, sedangkan pembangunan karakter cenderung terlupakan.

Ia mengatakan, sebuah negara akan mengalami kemajuan pesat apabila dibangun atas dasar akhlak dan moral yang benar, misalnya sikap disiplin pada peraturan yang telah ditetapkan. "Jadi pendidikan tidak hanya ditekankan pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan watak dan kepribadian. Di dalam pandangan hidup tradisional, karakter tersebut dianggap sebagai poros tengah," katanya.

Ia melanjutkan, kegagalan pendidikan di Indonesia juga tidak terlepas dari kurangnya keteladanan dari pendidik dan juga pemimpin bangsa yang berkewajiban untuk membangun karakter masyarakat secara utuh.

Banyak elite nasional negeri ini, katanya, yang memiliki sikap bertolak belakang dengan kepentingan pembangunan karakter bangsa sehingga sikap tersebut justru menonjol sebagai karakter bangsa.

Kemunduran Bangsa Indonesia tersebut juga dapat dilihat dari semakin buruknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2009 yang menempati peringkat 119 dunia, padahal setahun sebelumnya berada pada peringkat 109 dunia dari 182 negara. (Ant/OL-01)

Jumat, 03 April 2009

UJIAN NASIONAL

UN adalah Ladang Bertani Para Guru

Sebenarnya, pernyataan “UN sebagai pemicu ancaman krisis kepercayaan bagi guru” adalah hal yang perlu dikaji kembali. Sebab, UN adalah program pemerintah yang tidak bisa terelakkan sampai detik ini. Namun, akankah guru terperangkap dalam ketidakberdayaan dan mendiskreditkan UN? Alih-alih menunggu kebijakan pemerintah tentang UN berubah, guru harus tetap berpikir bijak untuk mengambil langkah positif.

Seorang pelaut ulung memberi nasihat,” Kamu tidak akan bisa mengubah arah angin tapi kamu bisa mengubah arah layarmu.” Kamu juga tidak bisa mengubah keputusan para pejabat negara yang telah menetapkan UN. Tapi kamu bisa mengubah sikapmu menyambut UN (Welcome to IZI Consulting Forum: Agus, 20 Juli 2006). Nasihat ini dapat diterapkan guru. Guru hendaknya bersikap lebih proaktif dan kompetitif. Siap bekerja keras, menjadikan UN sebagai tantangan.

Mungkin, bukan UN-nya yang menjadikan guru tidak memiliki eksistensi pengakuan masyarakat saat siswa-siswanya lulus 100%. Barangkali, bukan UN-nya pula yang menjadikan guru sebagai oknum pertama yang tertuduh saat ada siswa yang tidak lulus. Bisa jadi, rumor di atas muncul justeru berangkat dari kharismatik guru yang kurang terasah. Sebab, sebagian guru memang masih kurang berpacu untuk mengembangkan profesionalitas.

Seharusnya, UN dijadikan ladang bagi guru untuk bertani. Bukankah seorang petani akan lebih memahami bagaimanakah cara bercocok-tanam yang baik dibandingkan seorang nelayan, misalnya? Bukankah seorang petani lebih memiliki alat-alat pertanian yang lebih tajam dibandingkan seorang pedagang, misalnya?

Berarti, seorang guru jauh lebih tahu kurikulum dibandingkan professional lain. Guru juga lebih menguasai Standar Kompetensi Lulusan/SKL dibandingkan professional lain. Bahkan, guru memiliki materi dan kisi-kisi soal UN yang lebih representatif. Harusnya, guru lebih piawai dalam membimbing para siswa agar lulus 100%.

Ibarat pedagang, adalah wajar bila dalam satu pasar ada banyak penjual buah-buahan. Begitu juga dengan “Program Bimbingan Belajar/Bimbel” menjelang UN. Harusnya, guru lebih memiliki produk dengan “daya jual” lebih tinggi. Sebab, guru lebih mengetahui kurikulum. Guru lebih memahami SKL berserta kisi-kisi soal. Bahkan, guru memiliki pengembangan materi yang lebih cocok dan representatif.

Untuk itu, mulailah untuk berbenah. Ciptakan kharismatik diri secara dewasa. Tidak hanya sebagai wahana perbisnisan. Tapi, UN adalah wahana bagi guru untuk mengemban tanggung jawab yang besar. Sebab, para siswa secara resmi menjadi tanggung-jawab guru. Bukan tanggung jawab para tentor, pembina, ataupun pengajar di sebuah Bimbingan Belajar/Bimbel (Swasta). Kelulusan para siswa, adalah tanggung jawab guru.

Adalah ironis, bila siswa tidak lulus, gurulah yang menjadi tudingan. Sementara bila siswa lulus dengan nilai memuaskan, justeru peran guru “dialpakan”. Harusnya, fenomena ini tidak perlu terjadi andaikan para guru memiliki tindakan antisipatif sebelumnya. Misal, dengan menunjukkan pola pembinaan/bimbingan menjelang UN melalui program yang jelas, terarah, serta bertolok ukur. Apalagi para guru Pembina pelajaran UN tersebut benar-benar guru pilihan, handal, memiliki etos kerja tinggi, loyal, serta bertanggung jawab.

Memang dibutuhkan upaya kreatif untuk memulihkan sebuah krisis kepercayaan di atas. Pertama, guru membuat “peta konsep” berdasarkan SKL yang ada. Sehinggga, siswa tidak harus dijejali materi yang terlalu overloud dan memuakkan. Kedua, guru juga membuat pola penentuan indikator berdasarkan soal-soal UN sebelumnya. Berdasarkan pola indikator yang sudah terbentuk tersebut, guru dapat menyusun indikator-indikator (kisi-kisi soal) baru yang disesuaikan dengan SKL terbaru.

Ketiga, guru juga harus mempelajari formulasi bentuk soal-soal UN sebelumnya. Lalu, guru mencoba menyusun soal berdasarkan kisi-kisi yang dibuat sebelumnya, dengan mengadaptasikan formulasi bentuk soal yang telah ditemukan. Kalau guru sudah handal menyusun kisi-kisi dan soal UN, otomatis guru pun akan tahu “trik” menjawab soal secara benar. Sehingga upaya keempat yang bisa dilakukan, membantu siswa menemukan cara belajar yang “cerdas dan mudah”. Bahkan kelima, guru bisa menciptakan “jaringan tirakat” dengan para siswa. Artinya, pada waktu tertentu guru bisa mengingatkan siswa (via SMS/telepon, misalnya) agar melakukan sholat malam dan berdoa. Dan, si guru pun turut sholat malam dan mendoakan siswanya.

Nah, dengan upaya kreatif di atas, guru tentu memiliki tawaran produk yang lebih menjanjikan. Hal ini akan menjadikan para siswa lebih bersimpati pada gurunya. Para siswa akan lebih percaya dan memilih gurunya. Bahkan, kepercayaan ini akan mengurai sebuah kedekatan bathin antara guru dengan siswa. Sehingga, para siswa menjadi yakin bahwa mereka akan mendapatkan keberkahan dari Tuhan karena senantiasa menghargai dan menghormati guru. Akhirnya, terciptalah keselarasan dan keharmonisan cita-rasa dan karsa, antara guru dan siswa.