Jumat, 03 April 2009

UJIAN NASIONAL

UN adalah Ladang Bertani Para Guru

Sebenarnya, pernyataan “UN sebagai pemicu ancaman krisis kepercayaan bagi guru” adalah hal yang perlu dikaji kembali. Sebab, UN adalah program pemerintah yang tidak bisa terelakkan sampai detik ini. Namun, akankah guru terperangkap dalam ketidakberdayaan dan mendiskreditkan UN? Alih-alih menunggu kebijakan pemerintah tentang UN berubah, guru harus tetap berpikir bijak untuk mengambil langkah positif.

Seorang pelaut ulung memberi nasihat,” Kamu tidak akan bisa mengubah arah angin tapi kamu bisa mengubah arah layarmu.” Kamu juga tidak bisa mengubah keputusan para pejabat negara yang telah menetapkan UN. Tapi kamu bisa mengubah sikapmu menyambut UN (Welcome to IZI Consulting Forum: Agus, 20 Juli 2006). Nasihat ini dapat diterapkan guru. Guru hendaknya bersikap lebih proaktif dan kompetitif. Siap bekerja keras, menjadikan UN sebagai tantangan.

Mungkin, bukan UN-nya yang menjadikan guru tidak memiliki eksistensi pengakuan masyarakat saat siswa-siswanya lulus 100%. Barangkali, bukan UN-nya pula yang menjadikan guru sebagai oknum pertama yang tertuduh saat ada siswa yang tidak lulus. Bisa jadi, rumor di atas muncul justeru berangkat dari kharismatik guru yang kurang terasah. Sebab, sebagian guru memang masih kurang berpacu untuk mengembangkan profesionalitas.

Seharusnya, UN dijadikan ladang bagi guru untuk bertani. Bukankah seorang petani akan lebih memahami bagaimanakah cara bercocok-tanam yang baik dibandingkan seorang nelayan, misalnya? Bukankah seorang petani lebih memiliki alat-alat pertanian yang lebih tajam dibandingkan seorang pedagang, misalnya?

Berarti, seorang guru jauh lebih tahu kurikulum dibandingkan professional lain. Guru juga lebih menguasai Standar Kompetensi Lulusan/SKL dibandingkan professional lain. Bahkan, guru memiliki materi dan kisi-kisi soal UN yang lebih representatif. Harusnya, guru lebih piawai dalam membimbing para siswa agar lulus 100%.

Ibarat pedagang, adalah wajar bila dalam satu pasar ada banyak penjual buah-buahan. Begitu juga dengan “Program Bimbingan Belajar/Bimbel” menjelang UN. Harusnya, guru lebih memiliki produk dengan “daya jual” lebih tinggi. Sebab, guru lebih mengetahui kurikulum. Guru lebih memahami SKL berserta kisi-kisi soal. Bahkan, guru memiliki pengembangan materi yang lebih cocok dan representatif.

Untuk itu, mulailah untuk berbenah. Ciptakan kharismatik diri secara dewasa. Tidak hanya sebagai wahana perbisnisan. Tapi, UN adalah wahana bagi guru untuk mengemban tanggung jawab yang besar. Sebab, para siswa secara resmi menjadi tanggung-jawab guru. Bukan tanggung jawab para tentor, pembina, ataupun pengajar di sebuah Bimbingan Belajar/Bimbel (Swasta). Kelulusan para siswa, adalah tanggung jawab guru.

Adalah ironis, bila siswa tidak lulus, gurulah yang menjadi tudingan. Sementara bila siswa lulus dengan nilai memuaskan, justeru peran guru “dialpakan”. Harusnya, fenomena ini tidak perlu terjadi andaikan para guru memiliki tindakan antisipatif sebelumnya. Misal, dengan menunjukkan pola pembinaan/bimbingan menjelang UN melalui program yang jelas, terarah, serta bertolok ukur. Apalagi para guru Pembina pelajaran UN tersebut benar-benar guru pilihan, handal, memiliki etos kerja tinggi, loyal, serta bertanggung jawab.

Memang dibutuhkan upaya kreatif untuk memulihkan sebuah krisis kepercayaan di atas. Pertama, guru membuat “peta konsep” berdasarkan SKL yang ada. Sehinggga, siswa tidak harus dijejali materi yang terlalu overloud dan memuakkan. Kedua, guru juga membuat pola penentuan indikator berdasarkan soal-soal UN sebelumnya. Berdasarkan pola indikator yang sudah terbentuk tersebut, guru dapat menyusun indikator-indikator (kisi-kisi soal) baru yang disesuaikan dengan SKL terbaru.

Ketiga, guru juga harus mempelajari formulasi bentuk soal-soal UN sebelumnya. Lalu, guru mencoba menyusun soal berdasarkan kisi-kisi yang dibuat sebelumnya, dengan mengadaptasikan formulasi bentuk soal yang telah ditemukan. Kalau guru sudah handal menyusun kisi-kisi dan soal UN, otomatis guru pun akan tahu “trik” menjawab soal secara benar. Sehingga upaya keempat yang bisa dilakukan, membantu siswa menemukan cara belajar yang “cerdas dan mudah”. Bahkan kelima, guru bisa menciptakan “jaringan tirakat” dengan para siswa. Artinya, pada waktu tertentu guru bisa mengingatkan siswa (via SMS/telepon, misalnya) agar melakukan sholat malam dan berdoa. Dan, si guru pun turut sholat malam dan mendoakan siswanya.

Nah, dengan upaya kreatif di atas, guru tentu memiliki tawaran produk yang lebih menjanjikan. Hal ini akan menjadikan para siswa lebih bersimpati pada gurunya. Para siswa akan lebih percaya dan memilih gurunya. Bahkan, kepercayaan ini akan mengurai sebuah kedekatan bathin antara guru dengan siswa. Sehingga, para siswa menjadi yakin bahwa mereka akan mendapatkan keberkahan dari Tuhan karena senantiasa menghargai dan menghormati guru. Akhirnya, terciptalah keselarasan dan keharmonisan cita-rasa dan karsa, antara guru dan siswa.

1 komentar: